Misi Lidi: Tawa dan Luka di Hutan Kedotan
Cerita ini berasal dari masa kecil saya ketika duduk di bangku Sekolah Dasar. Di masa itu, saya punya dua teman dekat yang selalu bersama-sama dalam banyak petualangan kecil kami. Mereka adalah Aman dan Pen. Walaupun usia mereka lebih tua dari saya, kami berada di kelas yang sama. Karena itu, saya biasa memanggil mereka dengan sebutan “Paman Aman” dan “Bang Pen” sebagai bentuk penghormatan dan kebiasaan kami di kampung.
Kami bertiga tinggal di sebuah desa Kedotan, sebuah desa kecil yang masih sangat kental dengan nuansa alamnya. Pohon-pohon besar, sungai jernih, dan hutan kecil di pinggiran desa adalah tempat bermain kami setiap hari. Salah satu kegiatan kami adalah mencari lidi dari pohon aren, atau dalam bahasa desa kami disebut “pohon noo.”, tugas dari sekolah untuk nilai prakarya.
Petualangan Mencari Lidi
Sore hari balik sekolah, kami bertiga sepakat untuk pergi ke hutan mencari lidi dari pohon noo. Lidi ini nantinya akan kami kumpulkan di sekolah untuk tugas prakarya. Kami membawa parang kecil dan tas karung bekas untuk menampung hasil panen lidi kami. Dengan penuh semangat, kami berangkat sore setelah balik sekolah, melewati jalan setapak dan semak-semak yang sudah tidak asing lagi bagi kami.
Setelah berjalan cukup jauh, kami menemukan sebuah pohon noo yang batangnya belum terlalu tinggi. Pohon ini sempurna untuk dipanjat dan diambil pelepahnya. Setelah berdiskusi sebentar, kami sepakat bahwa yang akan memanjat adalah Paman Aman, karena dia bertubuh besar dan kuat. Sementara saya dan Bang Pen menunggu di bawah, siap menyambut pelepah yang dilempar turun.
Karena tubuh saya kecil dan tidak terlalu berani manjat, saya lebih banyak jadi pengamat saja dari bawah. Hehe… tugas saya ya cuma memperhatikan keadaan sekitar dan sesekali memberi semangat. Tapi meskipun begitu, saya merasa tetap menjadi bagian penting dari misi kami hari itu.
Kejadian Tak Terlupakan
Namun, petualangan kami hari itu tidak semulus yang dibayangkan. Saat Paman Aman mulai turun dari pohon aren, tiba-tiba dia menjerit keras. Kami semua terkejut.
Rupanya, saat hendak turun, telinganya tersangkut akar rotan yang menggantung dan berduri panjang. Duri itu menusuk telinga bagian kiri kalau saya tidak salah ingat dan membuatnya langsung mengerang kesakitan. Darah mengalir cukup banyak, dan kami semua langsung panik. Tapi karena kami masih anak-anak, reaksi pertama kami malah… tertawa.😂
Ya, saya dan Bang Pen bukannya langsung menolong dengan serius, kami malah sempat tertawa terpingkal-pingkal melihat ekspresi wajah Paman Aman yang kesakitan sambil berusaha menarik diri dari duri. Mungkin terdengar kejam, tapi saat itu kami merasa seperti sedang berada dalam film lucu walaupun jelas itu adalah momen yang menyakitkan baginya.
Setelah beberapa menit, kami akhirnya membantu melepaskan duri itu dari telinganya dengan hati-hati.
Paman Aman meringis menahan sakit, dan saat kami berhasil menarik durinya, terlihat luka cukup dalam dan darah masih menetes. Kami segera robek salah satu baju lama yang kami bawa untuk mengikat lukanya. Untung saja, tidak terjadi sesuatu yang lebih parah.
Digigit Pacet
Belum selesai dengan kejadian itu, kami kembali dikejutkan oleh hal lain. Saat hendak mengambil pelepah yang sudah kami kumpulkan, kami menyadari bahwa tubuh kami digigit pacet! Kaki, tangan, bahkan masuk dalam badan kami jadi tempat pesta darah si pacet. Pacet-pacet kecil itu benar-benar mengganggu. Saat kami mencoba menariknya, mereka tetap menempel erat, dan gerakan mereka yang menggeliat membuat kami merasa geli-geli jijik. Kami pun saling tunjuk dimana tempat pacet berada di tubuh kami dan tertawa-tawa, mencoba mengusir pacet dari tubuh masing-masing. Suasana yang tadinya panik berubah jadi lucu dan kacau.
Lucunya, saya yang paling kecil justru paling panik. Saya sampai melompat-lompat sendiri, karena merasa ada pacet di dalam baju. Bang Pen malah menjadikannya seperti lomba siapa yang paling banyak pacet di tubuhnya. Kami tertawa sampai perut sakit, meskipun tubuh masih gatal-gatal bekas gigitan.
Pulang dengan Luka dan Tawa
Setelah semua lidi terkumpul dan luka Paman Aman dibalut seadanya, kami memutuskan untuk segera pulang. Perjalanan pulang terasa lebih berat karena tubuh kami letih dan Paman Aman harus menahan sakit. Tapi anehnya, sepanjang jalan kami masih sempat bercanda, bahkan Paman Aman sendiri bisa tertawa mengingat betapa konyolnya kejadian tadi.
Sesampainya di rumah, kami langsung membersihkan diri, dan esok harinya lidi-lidi hasil pencarian kami dibawa ke sekolah. Meskipun guru kami sempat menegur karena ada bercak darah di karung, kami tetap merasa bangga karena telah menyelesaikan “misi” dengan penuh perjuangan.
Cerita ini mungkin terlihat sederhana, tapi bagi saya itu adalah salah satu kenangan masa kecil yang tak terlupakan. Bersama Paman Aman dan Bang Pen, saya belajar arti kebersamaan, keberanian, dan bagaimana tertawa di tengah-tengah rasa sakit.
Masa SD memang masa yang penuh warna. Di sanalah saya menemukan sahabat, tawa yang lepas, dan petualangan-petualangan kecil yang membentuk siapa saya hari ini. Dan setiap kali saya melihat pohon aren atau pohon noo dalam bahasa kampung saya, saya selalu teringat kejadian kocak, geli, dan sedikit sedih itu… di sebuah hutan kecil desa Kedotan.(Syawal,201446/19April)

Komentar
Posting Komentar