Solar dan musim umo

    Waktu usia saya lima tahun, ada satu cerita yang selalu diceritakan oleh Mak, cerita yang selalu membuat kami tertawa setiap kali dikenang, meski saat itu mungkin semua orang panik bukan main. Cerita ini terjadi di musim tanam padi, saat umo (sawah) di kampung mulai diisi kembali dengan benih harapan.

    Musim tanam adalah masa sibuk bagi keluarga kami. Semua orang turun ke sawah, bekerja dari pagi hingga sore, berjuang bersama alam untuk menyiapkan ladang yang subur. Cuaca waktu itu panas terik. Matahari seperti enggan bersembunyi, memancarkan panasnya tanpa ampun. Anak-anak kecil seperti saya biasanya ikut ke sawah, bermain atau berlompatan di sela-sela lumpur, menikmati keriangan masa kecil.

    Saya masih ingat, di tengah panas yang menyengat, haus mulai menyerang. Saya berlarian kecil, mencari-cari minuman. Di atas pondok, saya melihat sebuah botol yang diletakkan di atas meja kecil. Warnanya seperti teh yang biasa Mak bawa dari rumah, dan saya yang masih polos tidak berpikir panjang. Dengan cepat, saya mengambil botol itu dan meminumnya.

    Tapi alangkah terkejutnya saya! Rasa yang aneh langsung memenuhi mulut, pahit dan pedas, bukan rasa teh manis yang saya bayangkan. Saya pun tersedak dan memuntahkan sebagian dari cairan itu. Wajah saya merah, mata menangis. Saat itu, Mak yang memperhatikan dari kejauhan langsung berlari menghampiri. Ketika beliau tahu saya meminum solar, wajahnya pucat seketika, ayah ikut panik.

    Mak segera membawa saya pulang. Di rumah, mak berusaha membuat saya memuntahkan cairan yang mungkin tertelan. Saya diberi air kelapa dan disuruh makan pisang untuk menetralisir. Panik dan takut bercampur menjadi satu. Untunglah, setelah beberapa waktu, saya mulai merasa lebih baik. Mungkin karena saya hanya sempat meneguk sedikit sebelum menyadari rasa aneh itu.

    Meski kejadian itu mengkhawatirkan, Mak selalu menceritakan kisah ini dengan nada tawa di kemudian hari. Katanya, waktu itu saya begitu lugu, begitu percaya diri bahwa semua yang ada dalam botol pasti teh manis. Sejak kejadian itu, setiap kali melihat botol yang tertinggal di sawah atau di mana pun, Mak selalu memastikan untuk memberi tanda atau menyimpannya di tempat yang aman. Dan saya pun belajar, tidak semua yang berwarna coklat adalah teh yang manis.

    Kisah itu menjadi bagian dari kenangan masa kecil saya yang lucu, meskipun dulu sempat menegangkan. Kini, setiap kali musim tanam tiba, cerita itu kembali dikenang, menjadi bahan candaan di tengah kesibukan menanam padi. Ternyata, dari kejadian yang tidak disengaja, lahirlah kenangan yang melekat seumur hidup.

    Masa kecil memang penuh cerita, ada yang lucu, ada yang menegangkan, tapi semuanya memberikan warna tersendiri. Dan cerita tentang “minum solar” ini selalu menjadi pengingat betapa polos dan lucunya diri saya dulu.

(15 Ramadhan 1446/15maret2025)


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Air Mata, Doa, dan Kesabaran yang Tak Pernah Padam

Rumahku Surgaku

Cinta Karena Allah

Siapa AbuHa?

Tangisan Suci

Kelambu dan Kasih sayang

Ramadhanku Rindu

Arti sebuah Nama