Ramadhanku Rindu

Ramadhanku Rindu

Masa kecil di bulan Ramadan memang menghadirkan kenangan yang sulit dilupakan. Ada nuansa kebersamaan dan kegembiraan yang begitu kuat, apalagi ketika dijalani bersama teman-teman dan keluarga di kampung. Ramadan bukan hanya tentang berpuasa, tapi juga tentang tradisi, persahabatan, dan momen-momen kecil yang kini menjadi cerita berharga.

Saat Ramadan tiba, suasana kampung berubah. Ada semangat yang berbeda di setiap sudut desa. Ketika sore menjelang masuk 1 ramadhan, mak dan ayah sudah mempersiapkan masak untuk persiapan sahur, dan mengingatkan kami untuk siap-siap malam ini sudah mulai terawih.

Ketika sore menjelang berbuka puasa suasana dipenuhi aroma masakan khas buka puasa biasa mak masak hang enak-enak dan khas bulan puasa ada kue takir(kue kapal) cendol, nasgor daun kunyit ( saya suka sekali) kolak dan banyak lagi yang lain. Selepas berbuka, momen yang paling ditunggu adalah sholat tarawih. 

Tradisi sederhana namun penuh makna terjadi setiap malam: menunggu panggilan dari teman-teman untuk berangkat ke masjid. Iskandar, atau yang sering dipanggil Sak dan Ijal, punya cara unik untuk memanggil. Bukan dengan teriakan, tapi dengan cuit (suara dari mulut yang keluar) khas yang nyaring. Suara itu seperti kode rahasia, tanda bahwa mereka sudah berdiri di depan rumah.

Begitu terdengar suara cuit, hati rasanya langsung senang. “Ah, mereka sudah datang!” pikirku. Bergegas aku bersiap, menyahut panggilan itu. Tidak perlu banyak kata, hanya senyuman dan tatapan mata, lalu langkah kaki yang mantap menuju masjid. Rumahku memang tak jauh dari masjid hanya beberapa langkah saja. Itulah yang membuat suasana Ramadan semakin hangat.

Jalan stapak kecil menuju masjid seakan menjadi saksi keakraban kami, berjalan beriringan di bawah cahaya lampu jalan yang remang, diselingi tawa dan candaan ringan. Dulu masjid kami berada di pinggir sungai Batanghari, suasana ini membuat alunan suara angin yang damai,suara daun-daun yang membuat suasana menjadi tenang dan tentram ditambahi lagi dengan suara jangkrik menambah gema sholawat terawih semakin sahdu dan kami dengan semangat menyambut gema sholawat saat sholat terawih.

Di masjid, suasana lebih hidup. Anak-anak, remaja, hingga orang tua berkumpul. Tarawih bukan hanya ibadah, tapi juga ruang bertemu dan bersilaturahmi. Kami saling menunggu, berdiri sejajar dalam saf, merasakan kehangatan ibadah yang dijalani bersama. Usai tarawih, tadarus Al-Qur’an menjadi kegiatan lanjutan yang tak kalah penting. Suasana masjid berubah jadi lebih syahdu.

Tadarus bukan sekadar membaca Al-Qur’an, tapi juga tentang kebersamaan. Suara-suara bacaan yang bersahutan menciptakan harmoni tersendiri. Kadang ada yang tertawa kecil karena salah baca, atau saling mengingatkan dengan lembut. Tapi justru di situ letak indahnya. Semua berusaha mencapai satu tujuan khatam Al-Qur’an sebelum malam takbiran. Ada rasa bangga setiap kali satu juz selesai dibaca, seolah melangkah semakin dekat menuju kemenangan.

Ketika Ramadan memasuki minggu-minggu terakhir, suasana semakin semarak. Bangunin sahur jadi kegiatan yang sangat dinanti. Kami membawa bass drum dan bedug kecil, berjalan keliling kampung. Suara tabuhan kami menjadi alarm yang membangunkan warga. Ada rasa bahagia ketika warga sudah bangun dengan tanda lampu-lampu mereka pada hidup, tanda orang-orang bersiap untuk sahur. Kami bukan hanya membangunkan, tapi juga menyebarkan semangat Ramadhan. Kadang lelah, tapi keceriaan bersama teman-teman menghapus segala penat.

Lalu datang momen yang paling dinantikan: persiapan malam takbiran. Sore hari sebelum lebaran, kami beramai-ramai ke hutan untuk mencari bambu atau “bolo” yang akan digunakan sebagai obor atau colok. Ada keseruan tersendiri dalam memilih bambu terbaik. Tak jarang, kami bercanda di tengah perjalanan, menebak siapa yang paling cepat menemukan bambu yang panjang dan kuat. Setelahnya, para pemuda mempersiapkan solar untuk menyalakan obor malam takbiran.

Ketika malam tiba, suasana desa berubah. Gelapnya malam diterangi oleh obor-obor yang berjejer rapi. Suara takbir berkumandang, ditabuh bersahutan dengan bedug. Anak-anak, remaja, hingga orang tua berkumpul, membawa obor, berjalan bersama, merayakan malam kemenangan. Ada tawa, ada haru, ada semangat yang tak tergantikan. Suasana itu begitu meriah, namun juga penuh kehangatan.

Semua orang larut dalam euforia. Kami berjalan beriringan mengelilingi kampung, menabuh bedug, melantunkan takbir dengan penuh suka cita. Anak-anak kecil berlari-lari riang, para orang tua menyapa hangat. Tak ada batas usia, semua bergembira merayakan datangnya 1 Syawal. Malam itu terasa panjang, tapi juga terlalu cepat berlalu. Ada rasa haru, tapi juga bahagia, karena telah berhasil menjalani Ramadan dengan penuh semangat.

Kenangan seperti ini, meski sederhana, selalu melekat di hati. Tradisi yang dijalani bersama teman-teman, kebersamaan dengan keluarga, serta keceriaan warga desa menciptakan kenangan yang sulit tergantikan. Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tapi tentang makna persahabatan, gotong royong, dan rasa syukur yang mendalam.

Kini, setiap kali Ramadan datang, kenangan masa kecil itu selalu hadir. Suara cuitan khas teman, tabuhan bass drum dan bedug kecil, tadarus yang ramai, serta obor yang menyala di malam takbiran semua itu seakan menjadi bagian dari kisah hidup yang tak akan pernah hilang. Meskipun waktu terus berjalan, kenangan itu tetap abadi di hati, menjadi cerita yang indah untuk dikenang dan diceritakan kembali. (18ramadhan1446/17maret2025)


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Air Mata, Doa, dan Kesabaran yang Tak Pernah Padam

Rumahku Surgaku

Cinta Karena Allah

Solar dan musim umo

Siapa AbuHa?

Tangisan Suci

Kelambu dan Kasih sayang

Arti sebuah Nama