Cinta Karena Allah

Foto mak dan ayah



 Kisah Cinta Mak dan Ayah

Di desa yang tenang dan penuh dengan adat istiadat, kisah cinta antara Mak dan Ayah bermula. Sebuah kisah yang sederhana, namun sarat makna dan ketulusan. Cinta mereka tumbuh bukan karena pertemuan yang disengaja, melainkan melalui silaturahim yang membawa berkah.

Mak saat itu masih duduk di bangku Madrasah Tsanawiyah (MTS), seorang gadis muda yang santun dan penuh adab. Sementara Ayah masih melanjutkan pendidikan di jenjang SMA, seorang pemuda yang teguh pendirian dan penuh rasa tanggung jawab. Mereka berdua hidup dalam lingkungan yang menjunjung tinggi adat dan norma, di mana pergaulan antara pria dan wanita sangat dijaga.

Namun, ada satu hal yang unik dalam kisah mereka. Kata Nyai Ayah seringkali datang ke rumah nyai untuk bersilaturahim. Awalnya, kunjungan itu tampak biasa, hanya sebagai bentuk menjaga hubungan baik antar keluarga. Namun, seiring berjalannya waktu, kunjungan itu menjadi semakin sering. Mungkin tanpa disadari, benih cinta mulai tumbuh di hati Ayah. Tatap mata yang sederhana, senyum yang tulus, dan sikap santun Mak membuat hati Ayah terpaut.

Ayah bukanlah tipe pemuda yang mudah jatuh cinta. Namun, terhadap Mak, hatinya merasa mantap. Ia yakin bahwa Mak adalah satu-satunya wanita pilihan hatinya. Namun, dalam adat dan tata krama, cinta tidak bisa disampaikan begitu saja. Ada tata cara yang harus diikuti, ada adab yang harus dijaga.

Melihat intensitas silaturahim yang semakin sering, Datuk, orang tua Ayah, mulai merasa ada sesuatu yang harus dibicarakan. Ia tidak ingin terjadi salah paham atau fitnah. Sebagai orang tua yang bijaksana, Datuk memutuskan untuk mendatangi keluarga Mak. Dengan penuh rasa hormat, ia menemui Nyai dan keluarga besarnya untuk membicarakan niat baik.

Pertemuan antara kedua keluarga berlangsung dalam suasana yang hangat dan penuh keakraban. Tidak ada ketegangan, hanya ada keinginan untuk menjaga kehormatan dan menyatukan niat baik. Datuk menyampaikan maksud kedatangannya dengan bijaksana. Ia menjelaskan bahwa Ayah memiliki niat tulus terhadap Mak. Ayah tidak ingin bermain-main atau hanya sekadar dekat. Ia ingin melamar dan menikahi Mak setelah keduanya menyelesaikan pendidikan.

Nyai dan keluarga Mak mendengar dengan seksama. Mereka melihat kesungguhan dalam setiap kata yang disampaikan Datuk. Mereka juga memahami betapa pentingnya menjaga kehormatan dan masa depan Mak. Setelah berdiskusi panjang dan mempertimbangkan berbagai hal, kedua keluarga pun mencapai kesepakatan. Keputusan diambil dengan penuh pertimbangan dan rasa syukur: Mak dan Ayah akan menikah setelah mereka menuntaskan pendidikan masing-masing.

Keputusan itu disambut dengan perasaan bahagia. Tidak ada paksaan, tidak ada rasa keberatan, melainkan niat suci untuk menyatukan dua hati yang sudah digariskan oleh takdir. Mak merasa tenang, karena tahu pilihannya adalah sosok yang bertanggung jawab. Begitu juga Ayah, yang merasa bahagia karena cintanya diterima dengan cara yang terhormat.

Masa-masa menunggu menjadi waktu yang berharga bagi keduanya. Mereka fokus menyelesaikan pendidikan, dengan semangat yang lebih besar karena adanya tujuan yang jelas di depan mata. Setiap hari dilalui dengan harapan dan doa agar segala urusan dimudahkan. Keluarga dari kedua belah pihak pun semakin erat menjalin silaturahim, saling mendukung, dan saling menjaga.

Hingga akhirnya, hari yang dinanti tiba. Setelah menyelesaikan pendidikan, Mak sempat belajar atau kursus menjahit sebagai keterampilan seorang wanita selama lebih kurang tiga bulan, setelah itu Mak dan Ayah melangsungkan pernikahan yang sederhana namun penuh berkah. Acara berlangsung dalam suasana haru dan bahagia, dihadiri oleh keluarga besar dan tetangga yang turut mendoakan kebahagiaan mereka.

Bagi Mak dan Ayah, pernikahan bukanlah akhir dari kisah, melainkan awal dari perjalanan baru. Mereka memulai hidup bersama dengan tekad untuk membangun keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah. Mereka saling mendukung dalam suka dan duka, saling melengkapi dalam kekurangan dan kelebihan.

Cinta yang bersemi dari silaturahim itu tumbuh semakin kuat seiring berjalannya waktu. Mereka menyadari bahwa cinta sejati bukan hanya tentang rasa suka, tetapi tentang komitmen, tanggung jawab, dan keinginan untuk saling menjaga. Cinta itu bukan hanya dirasakan, tetapi juga diwujudkan dalam sikap dan perbuatan setiap hari.

Kini, setiap kali mengenang masa lalu di usia 34 tahun pernikahan Mak dan Ayah ( Rabu 23 Januari 1991 / 7 Rajab 1411), Mak dan Ayah selalu bersyukur atas perjalanan cinta yang penuh makna itu. Mereka percaya bahwa segala sesuatu yang dimulai dengan niat baik dan dijalani dengan adab yang benar akan selalu membawa keberkahan. Kisah cinta mereka menjadi inspirasi bagi anak cucu, bahwa cinta suci adalah cinta yang dijaga, dipelihara, dan dibangun di atas fondasi keimanan dan keikhlasan.

Dari kisah cinta sederhana itu, tumbuhlah keluarga yang penuh cinta dan kasih sayang lahir empat buah hati 3 putra dan satu putri. Sebuah keluarga yang selalu menjunjung tinggi nilai-nilai adat dan agama, serta menjadikan cinta sebagai pondasi utama dalam membangun rumah tangga yang bahagia. Ini menjadi pelajaran bagi kami buah hati untuk menjalani kehidupan yang akan datang. 

Saat ini mak dan ayah sudah menjadi orang tua yang sukses dan berhasil mendidik, membimbing dengan do’a dan perjuangan menghantarkan buah hati menjadi insan pribadi yang mereka harapkan. Anak pertama sudah menikah (2016) dan memiliki dua buah hati, kemudian anak kedua juga sudah menikah (2019) memiliki dua buah hati, anak ketiga juga sudah menikah (2025), anak keempat masih sekolah saat ini jenjang SMA. Kami selalu berdoa untuk mak, ayah dan keluarga kami bahagia di dunia hingga bahagia ke surga bersama-sama. Aamiin

(13 Ramadhan 1446/kamis 13 maret 2025)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Air Mata, Doa, dan Kesabaran yang Tak Pernah Padam

Rumahku Surgaku

Solar dan musim umo

Siapa AbuHa?

Tangisan Suci

Kelambu dan Kasih sayang

Ramadhanku Rindu

Arti sebuah Nama