Rumahku Surgaku
Di Desa Kedotan, Dusun Mudo RT 06, berdiri rumah panggung sederhana tempat kenangan masa kecilku tersimpan. Rumah itu terbuat dari kayu dengan tiang-tiang kokoh yang menopangnya. Di halaman rumah, bunga-bunga bermekaran, ditanam dengan penuh kasih sayang oleh Mak. Mawar merah, melati putih, dan kenanga yang harum saat malam tiba seolah menjadi saksi bisu kehidupan kami yang sederhana namun penuh kebahagiaan.
Ayah adalah sosok yang tegas namun penuh kelembutan. Ia selalu mengajarkan kami tentang arti kerja keras. Setiap pagi, sebelum matahari sepenuhnya terbit, ia sudah berangkat ke umo dengan membawa peralatan untuk membersihkan umo. Sementara itu, Mak sibuk di dapur, memasak nasi dan lauk sederhana di dapur kayu. Aroma nasi yang baru matang bercampur dengan bau kayu bakar menciptakan kehangatan tersendiri di rumah kecil kami.
Kami, anak-anaknya, tumbuh dengan didikan sederhana tetapi penuh makna. “Hidup bukan tentang seberapa banyak yang kita punya, tetapi seberapa banyak yang bisa kita syukuri,” kata Mak suatu hari saat kami duduk di teras rumah, menikmati angin sore yang berhembus lembut. Ayah mengangguk, menambahkan, “Dan kasih sayang adalah harta paling berharga.”
Di halaman rumah, kami sering bermain bersama. Kadang kami bermain layang-layang, berlari mengejar ekornya yang melambai-lambai di langit biru. Kadang, kami membantu Mak merawat kembang ( bunga - bunga ) kesayangannya. Membersihkan perkaragan rumah, nebas rumput, nyapu sampah dan di bakar. Kata Mak, sambil menyiram kembang, “kalau dirawat dengan kasih sayang, ia akan tumbuh dan berbunga indah.”
Malam hari, kami berkumpul di ruang tengah yang hanya diterangi lampu minyak (lampu togok, lampu setom) kadang pakai serongkeng juga. Ayah sering bercerita tentang masa kecilnya, tentang perjuangan datuk dan nyai yang membesarkannya dengan penuh keterbatasan, namun tak pernah kekurangan kasih sayang. Kami mendengarkan dengan penuh takjub, merasa beruntung memiliki orang tua seperti mereka.
Ketika hujan turun, suara rintiknya di atap rumah kayu terasa menenangkan. Kami akan duduk berselimut, mendekat ke Mak ngelemun (berserimut). Kami tidak memiliki banyak harta, tetapi rumah ini penuh dengan kehangatan yang tak bisa digantikan oleh apa pun.
Tahun demi tahun berlalu. Saya tumbuh dewasa dan akhirnya harus meninggalkan rumah untuk menggapai mimpi di kota menjadi marbot masjid sambil kuliah di salah satu perguruan tinggi di jambi yakni IAIN STS Jambi (suatu saat nanti saya akan cerita saat nganpus dan jaga masjid ya). Tapi setiap kali balik rumah, rumah panggung ini selalu menyambutku dengan kehangatan yang sama. Kembang di halaman tetap bermekaran dulu, hehe…tapi sekarang sudah di ganti tanaman buah-buahan, dan suara Mak serta Ayah masih membawa ketenangan yang kurindukan.
Di sinilah saya belajar tentang kehidupan. Tentang kesederhanaan, tentang kebahagiaan yang tidak diukur dari harta, tetapi dari cinta yang kami bagi setiap hari. Rumah panggung sederhana ini, di Desa Kedotan, Dusun Mudo RT 06, akan selalu menjadi surgaku. Tempat di mana kenangan terukir, tempat di mana kasih sayang Ayah dan Mak tak akan pernah pudar hingga akhir hayat dan bersua di surganya kelak. Aamiin
(Ramadhan ,Ahad/9/3/2025)

Komentar
Posting Komentar