Kelambu dan Kasih sayang

Sumber: Pinterest

❤Kasih sayang Mak

    Masa kecil selalu menyisakan kenangan yang tak tergantikan. Ada banyak hal yang mungkin perlahan-lahan terlupakan, tetapi ada pula yang tetap hidup dalam ingatan, seolah baru terjadi kemarin. Salah satu memori yang selalu terpatri dalam benakku adalah kebiasaan mak sebelum saya tidur.

    Setiap malam, sebelum saya terlelap, mak selalu mengingatkan untuk membersihkan diri terlebih dahulu. “Cuci kaki, cuci tangan, jangan lupa sikat gigi,” begitu katanya setiap malam. Awalnya, saya sering mengeluh, merasa malas untuk bangun lagi hanya demi membasuh tangan dan kaki. Tetapi mak tidak pernah lelah mengingatkan. Baginya, kebersihan sebelum tidur adalah hal yang penting.

    Setelah membersihkan diri, saya akan naik ke tempat tidur. Di saat itulah saya merasa kasih sayang mak begitu nyata. Dalam kesunyian malam, ketika saya mulai terpejam, mak selalu datang. Saya tidak selalu sadar kapan tepatnya, tetapi saya tahu mak selalu ada. Dalam kehangatan kasih sayangnya, mak akan membungkuk, mencium keningku, dan berbisik lirih, “Selamat tidur, dan berdoa.”

Suara itu begitu lembut, penuh kasih, dan entah bagaimana, saya selalu merasa aman dan nyaman setiap kali mendengarnya. Ada doa yang diselipkan dalam setiap ucapan selamat tidur itu, doa yang mungkin saya tidak mengerti waktu kecil, tetapi kini saya tahu betapa berharganya itu.

Tak hanya itu, mak juga selalu memastikan saya nyaman. Jika malam terasa dingin, ia akan menyelimutiku dengan lembut. Terkadang, ia juga memasangkan kelambu agar tidak digigit nyamuk. Saya ingat betul bagaimana ia dengan hati-hati menyelipkan ujung kelambu ke kasur agar tidak ada celah yang bisa dimasuki nyamuk. Saat itu, saya tidak terlalu peduli dengan nyamuk atau udara dingin, tetapi sekarang saya menyadari bahwa semua itu adalah bentuk cinta dan sayang mak yang begitu tulus.

Pagi hari, ketika adzan subuh berkumandang, mak akan membangunkanku. Awalnya pelan, dengan suara lembut dan sentuhan halus di bahuku. “kulup / lup (panggilan sayang), bangun, sudah subuh,” katanya.

Saya yang masih mengantuk sering kali hanya menggeliat dan menarik selimut lebih erat. Namun, mak tidak pernah menyerah. Jika saya tidak juga bangun, ia akan menggoyangkan bahuku sedikit lebih keras dan berkata dengan nada lebih tegas, “lup, lup, bangun. Sholat dulu, nanti bisa tidur lagi kalau masih mengantuk.”

Ada kalanya saya masih enggan, dan mak akan membantuku duduk di tempat tidur, membelai rambutku, dan berkata, “Payo, lup , biar rezekimu lancar, biar harimu berkah, terang hati, lancar ngaji.” Kata-kata itu, yang dulu terasa seperti rutinitas biasa, kini terasa begitu dalam maknanya.

Setelah sholat, saya sering kali kembali tidur sebentar sebelum berangkat sekolah. Tetapi pagi itu selalu terasa lebih segar setelah wudhu dan sholat. Sekarang saya menyadari bahwa kebiasaan ini adalah salah satu warisan berharga yang mak tanamkan sejak kecil.

Kenangan ini terus hidup dalam benakku. Kini, setiap kali saya hendak tidur, saya masih bisa merasakan kehangatan tangan mak yang menyelimuti, bisikan doanya yang lirih, dan ciuman lembutnya di keningku. Dan setiap kali subuh tiba, saya teringat bagaimana mak dengan sabar membangunkanku, memastikan saya memulai hari dengan doa dan ibadah (kadan ingatan itu kembali).

Mungkin saat itu saya belum memahami betapa berharganya semua itu. Tetapi sekarang, setiap kali saya mengingatnya, saya merasa begitu bersyukur. Kasih sayang mak tidak hanya terasa dalam kata-kata, tetapi dalam setiap tindakan kecil yang ia lakukan tanpa pamrih.

Meskipun waktu terus berjalan dan saya kini telah tumbuh dewasa dan telah menikah memiliki kehidupan yang baru bersama kelurga terkasih, kenangan itu tetap melekat. Ia menjadi pengingat bahwa cinta sejati seorang mak tidak selalu diungkapkan dengan kata-kata besar, tetapi dalam hal-hal sederhana yang dilakukan dengan penuh kasih.

Dan kini, setiap kali saya melihat buah hati (bocil) yang tertidur lelap dengan selimut yang tersusun rapi, saya teringat bagaimana mak selalu melakukan hal yang sama untukku. Saya berharap, suatu hari nanti, saya bisa mewariskan cinta dan perhatian yang sama kepada anak-anakku, seperti yang telah mak ajarkan kepada saya. Wa Fiikum Barakallah

Ya Allah, Ampunilah dosaku dan dosa kedua orang tuaku, sayangilah keduanya sebagaimana keduanya menyayangiku diwaktu aku kecil” (19ramadhan1446/18maret2025)


 








Komentar

Postingan populer dari blog ini

Air Mata, Doa, dan Kesabaran yang Tak Pernah Padam

Rumahku Surgaku

Cinta Karena Allah

Solar dan musim umo

Siapa AbuHa?

Tangisan Suci

Ramadhanku Rindu

Arti sebuah Nama