Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2025

Misi Lidi: Tawa dan Luka di Hutan Kedotan

Gambar
         Cerita ini berasal dari masa kecil saya ketika duduk di bangku Sekolah Dasar. Di masa itu, saya punya dua teman dekat yang selalu bersama-sama dalam banyak petualangan kecil kami. Mereka adalah Aman dan Pen. Walaupun usia mereka lebih tua dari saya, kami berada di kelas yang sama. Karena itu, saya biasa memanggil mereka dengan sebutan “Paman Aman” dan “Bang Pen” sebagai bentuk penghormatan dan kebiasaan kami di kampung.   Kami bertiga tinggal di sebuah desa Kedotan, sebuah desa kecil yang masih sangat kental dengan nuansa alamnya. Pohon-pohon besar, sungai jernih, dan hutan kecil di pinggiran desa adalah tempat bermain kami setiap hari. Salah satu kegiatan kami adalah mencari lidi dari pohon aren, atau dalam bahasa desa kami disebut “pohon noo.”, tugas dari sekolah untuk nilai prakarya.  Petualangan Mencari Lidi  Sore hari balik sekolah, kami bertiga sepakat untuk pergi ke hutan mencari lidi dari pohon noo. Lidi ini nantinya aka...

Kemarau (Part 3)

Gambar
  Masa SMA dan Perubahan yang Terjadi Memasuki masa SMA, banyak hal mulai berubah. Jika dulu saat SD dan SMP saya dan teman-teman selalu menantikan musim kemarau sebagai waktu terbaik untuk bermain di Sungai Batanghari, kini kesibukan sekolah mulai mengurangi waktu kami untuk mandi dan berenang di sana. Tugas-tugas yang semakin banyak, persiapan ujian, dan kegiatan ekstrakurikuler membuat kami lebih sering berada di rumah atau sekolah daripada berlarian ke sungai seperti dulu. Selain itu, ada satu hal yang membuat kami semakin jarang bermain di sungai airnya sudah tidak sejernih dulu lagi. Dulu, saat menyelam, saya masih bisa melihat ikan kecil-kecil, suara ikan baung di dasar sungai atau bawah jamban (tempat mandi dan buang air), mendengar suara gelembung air, dan merasakan kesegaran air yang mengalir. Tapi kini, airnya mulai keruh, warna coklatnya lebih pekat, dan terkadang sampah-sampah kecil ikut terbawa arus. Kami masih sesekali pergi ke sungai, terutama jika kemarau benar-...

Kemarau (Part 2)

Gambar
Masa SMP yang Tak Terlupakan Meskipun sudah beranjak remaja dan duduk di bangku SMP, musim kemarau tetap menjadi waktu yang paling ditunggu-tunggu. Tidak banyak yang berubah dari kebiasaan kami. Sungai Batanghari masih menjadi tempat bermain utama, pasir timbul masih muncul saat air surut, dan suara ikan baung yang berenang di dasar sungai masih terdengar ketika kami menyelam. Bedanya, kali ini kami lebih berani dan semakin mahir dalam berenang. Jika saat SD saya baru belajar mengapung dan berenang di tepi sungai, saat SMP saya dan teman-teman sudah berani menyeberangi sungai tanpa menggunakan perahu atau ketek. Kami berenang ramai-ramai menuju pasir timbul, adu cepat siapa yang bisa sampai duluan. Bagi yang baru belajar, mereka tetap menumpang perahu atau berpegangan pada batang pisang yang mengapung di air. Saya ingat betul, ada satu kali ketika kami menyeberang, tiba-tiba ada arus deras kecil yang membuat beberapa teman hampir hanyut terbawa arus. Kami semua panik, tetapi untungn...

Kemarau (Part 1)

Gambar
  Kenangan Bermain dan Belajar Berenang Musim kemarau selalu menjadi musim yang paling ditunggu-tunggu bagi kami anak-anak di Desa Kedotan. Setiap tahun, ketika hujan mulai jarang turun dan matahari bersinar lebih terik, hati kami justru dipenuhi kegembiraan. Bagi orang dewasa, kemarau mungkin berarti sawah yang mulai kering dan sumur yang surut, tetapi bagi kami, anak-anak Sekolah Dasar waktu itu, musim ini adalah waktu terbaik untuk bermain, mandi, dan berenang di Sungai Batanghari. Saat kemarau tiba, air sungai menjadi lebih jernih. Dari tepi sungai, kami bisa melihat ikan-ikan kecil berenang di sungai. Jika menyelam, suara gemericik air dan ikan baung yang bersembunyi di celah-celah batu bisa terdengar jelas. Sensasi itu luar biasa, seperti berada di dunia lain yang hanya bisa kami nikmati saat kemarau tiba. Saya sendiri belajar berenang di musim kemarau. Rasanya lebih mudah dan menyenangkan karena airnya tidak terlalu deras seperti saat musim hujan. Awalnya, saya hanya bisa...