Kemarau (Part 1)


 Kenangan Bermain dan Belajar Berenang

Musim kemarau selalu menjadi musim yang paling ditunggu-tunggu bagi kami anak-anak di Desa Kedotan. Setiap tahun, ketika hujan mulai jarang turun dan matahari bersinar lebih terik, hati kami justru dipenuhi kegembiraan. Bagi orang dewasa, kemarau mungkin berarti sawah yang mulai kering dan sumur yang surut, tetapi bagi kami, anak-anak Sekolah Dasar waktu itu, musim ini adalah waktu terbaik untuk bermain, mandi, dan berenang di Sungai Batanghari.

Saat kemarau tiba, air sungai menjadi lebih jernih. Dari tepi sungai, kami bisa melihat ikan-ikan kecil berenang di sungai. Jika menyelam, suara gemericik air dan ikan baung yang bersembunyi di celah-celah batu bisa terdengar jelas. Sensasi itu luar biasa, seperti berada di dunia lain yang hanya bisa kami nikmati saat kemarau tiba.

Saya sendiri belajar berenang di musim kemarau. Rasanya lebih mudah dan menyenangkan karena airnya tidak terlalu deras seperti saat musim hujan. Awalnya, saya hanya bisa bermain di tepi sungai, mencelupkan kaki sambil menyiram air ke wajah. Tapi melihat teman-teman lain yang dengan lincah melompat dan menyelam, saya pun tergoda untuk mencoba. Dengan sedikit rasa takut, saya mulai belajar mengapung, menggerakkan tangan dan kaki seperti yang diajarkan teman-teman yang sudah lebih mahir.

Setiap sore, setelah pulang sekolah dan madrasah sore saya menaruh tas di rumah, kami langsung berlarian ke sungai. Beberapa anak membawa ban bekas, ada juga yang membawa batang pisang untuk digunakan sebagai pelampung. Kami berlomba-lomba siapa yang paling lama bisa menyelam, atau siapa yang paling jauh bisa berenang dari tepi ke tengah sungai.

Salah satu hal paling seru saat kemarau adalah munculnya pasir timbul di seberang sungai. Saat air surut, pasir yang biasanya tenggelam mulai terlihat, membentuk daratan kecil di tengah sungai. Dari jauh, pasir itu tampak seperti pulau kecil yang mengundang untuk dijelajahi. Kami pun beramai-ramai menyeberang ke sana. Kadang, kami menumpang perahu kecil milik penduduk desa, kadang minjam punya warga, kadang juga yang punya perahu besar pakai mesin (ketek) namanya, tetapi lebih sering kami berenang bersama-sama beriringan dengan perahu kecil.

Sesampainya di pasir timbul, kami langsung berlarian di atasnya, bermain kejar-kejaran, dan kadang menggali pasir untuk mencari kerang kecil yang terkadang ikut terbawa arus sungai. Ada juga yang membawa layangan dan menerbangkannya di atas pasir, menikmati angin yang bertiup sepoi-sepoi, bermain bola di atas pasir ada sensasi tersendiri kala itu saat musim kemarau.

Di sore hari, ketika matahari mulai condong ke barat, kami duduk di tepi pasir timbul, menikmati pemandangan langit yang mulai berubah warna. Air sungai yang jernih berkilauan diterpa cahaya senja, menciptakan suasana yang begitu damai. Kami tertawa, bercanda, dan kadang mengobrol tentang mimpi-mimpi kami di masa depan.

Namun, kesenangan itu selalu terasa singkat. Saat hari mulai gelap, dan alunan suara sholawat dari masjid sudah terdengar kami harus segera kembali ke rumah sebelum orang tua mencari. Dengan badan yang masih basah dan kulit yang mulai menghitam karena terbakar matahari, kami berlari pulang sambil membawa cerita seru untuk dibagikan esok harinya.

Musim kemarau di masa kecilku adalah kenangan yang tak terlupakan. Sungai Batanghari menjadi saksi betapa bahagianya kami menikmati masa kecil yang penuh keceriaan. Sekarang, mungkin banyak hal telah berubah, tetapi ingatan tentang pasir timbul, air jernih, dan suara ikan baung di dasar sungai akan selalu tersimpan dalam hati, menjadi bagian dari cerita indah masa kecilku di Desa Kedotan.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Air Mata, Doa, dan Kesabaran yang Tak Pernah Padam

Rumahku Surgaku

Cinta Karena Allah

Solar dan musim umo

Siapa AbuHa?

Tangisan Suci

Kelambu dan Kasih sayang

Ramadhanku Rindu

Arti sebuah Nama