Kemarau (Part 3)

 


Masa SMA dan Perubahan yang Terjadi

Memasuki masa SMA, banyak hal mulai berubah. Jika dulu saat SD dan SMP saya dan teman-teman selalu menantikan musim kemarau sebagai waktu terbaik untuk bermain di Sungai Batanghari, kini kesibukan sekolah mulai mengurangi waktu kami untuk mandi dan berenang di sana. Tugas-tugas yang semakin banyak, persiapan ujian, dan kegiatan ekstrakurikuler membuat kami lebih sering berada di rumah atau sekolah daripada berlarian ke sungai seperti dulu.

Selain itu, ada satu hal yang membuat kami semakin jarang bermain di sungai airnya sudah tidak sejernih dulu lagi. Dulu, saat menyelam, saya masih bisa melihat ikan kecil-kecil, suara ikan baung di dasar sungai atau bawah jamban (tempat mandi dan buang air), mendengar suara gelembung air, dan merasakan kesegaran air yang mengalir. Tapi kini, airnya mulai keruh, warna coklatnya lebih pekat, dan terkadang sampah-sampah kecil ikut terbawa arus.

Kami masih sesekali pergi ke sungai, terutama jika kemarau benar-benar panjang dan cuaca sangat panas. Tetapi, kebanyakan hanya duduk-duduk di tepian sambil mengobrol, mengenang masa kecil kami yang penuh dengan tawa dan keseruan bermain di pasir timbul. Beberapa teman yang masih suka berenang pun tidak lagi melakukannya sesering dulu.

Jika dulu kami beramai-ramai menyeberangi sungai untuk bermain di pasir timbul, kini kami lebih sering melihatnya dari jauh. Pasir itu masih muncul setiap kemarau, tetapi tidak seindah yang saya ingat saat kecil. Seiring waktu, kami menyadari bahwa desa kami mulai berubah, dan sungai yang dulu menjadi tempat bermain kini tak lagi seperti dulu.

Namun, meskipun tidak lagi bermain di sungai seperti saat kecil, musim kemarau tetap membawa rasa nostalgia yang kuat. Setiap kali melihat air yang surut, saya selalu teringat bagaimana kami dulu berlari-lari di atas pasir, berenang bersama, dan tertawa tanpa beban.

Kini, musim kemarau lebih banyak saya habiskan di rumah atau sekolah, menyelesaikan tugas, membaca buku, dan sesekali berbicara dengan teman-teman tentang masa depan. Kami tidak lagi memikirkan permainan di sungai, tetapi lebih banyak membahas rencana setelah lulus SMA, kuliah, atau bekerja.

Terkadang, saat pulang sekolah dan melewati sungai, saya melihat anak-anak kecil bermain di tepian, mirip seperti kami dulu. Mereka berteriak gembira, berlomba-lomba berenang, dan sesekali melompat dari akar pohon ke dalam air. Saya tersenyum sendiri, menyadari bahwa meskipun banyak yang berubah, Sungai Batanghari tetap menjadi tempat bermain bagi anak-anak desa, sama seperti dulu.

Musim kemarau di masa SMA mungkin tak lagi seceria dulu, tapi kenangan yang telah terukir tetap hidup di dalam hati. Saya tahu, suatu saat saya akan merindukan hari-hari itu hari-hari ketika sungai adalah dunia kecil kami, tempat di mana kebahagiaan begitu sederhana dan tak tergantikan.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Air Mata, Doa, dan Kesabaran yang Tak Pernah Padam

Rumahku Surgaku

Cinta Karena Allah

Solar dan musim umo

Siapa AbuHa?

Tangisan Suci

Kelambu dan Kasih sayang

Ramadhanku Rindu

Arti sebuah Nama