Kemarau (Part 2)
Masa SMP yang Tak Terlupakan
Meskipun sudah beranjak remaja dan duduk di bangku SMP, musim kemarau tetap menjadi waktu yang paling ditunggu-tunggu. Tidak banyak yang berubah dari kebiasaan kami. Sungai Batanghari masih menjadi tempat bermain utama, pasir timbul masih muncul saat air surut, dan suara ikan baung yang berenang di dasar sungai masih terdengar ketika kami menyelam. Bedanya, kali ini kami lebih berani dan semakin mahir dalam berenang.
Jika saat SD saya baru belajar mengapung dan berenang di tepi sungai, saat SMP saya dan teman-teman sudah berani menyeberangi sungai tanpa menggunakan perahu atau ketek. Kami berenang ramai-ramai menuju pasir timbul, adu cepat siapa yang bisa sampai duluan. Bagi yang baru belajar, mereka tetap menumpang perahu atau berpegangan pada batang pisang yang mengapung di air.
Saya ingat betul, ada satu kali ketika kami menyeberang, tiba-tiba ada arus deras kecil yang membuat beberapa teman hampir hanyut terbawa arus. Kami semua panik, tetapi untungnya ada anak-anak yang sudah lebih jago berenang yang langsung menolong. Setelah itu, kami lebih berhati-hati dan selalu memastikan untuk berenang bersama-sama, tidak ada yang pergi sendiri ke tengah sungai.
Selain berenang, musim kemarau juga membuat kami semakin kreatif dalam bermain. Salah satu permainan favorit kami adalah bermain kejar-kejaran dalam air dekat pasir. Kami membagi kelompok, yang mengejar dan lari dalam air atau berenang, tidak terbayangkan bagaimana serunya dengan suara gemericik air yang begitu gemuruh dan tawa saat mengejar teman yang dapat kita tangkap.
Kami juga mulai lebih banyak memancing ikan baung dan ikan yang lain di sungai. Dengan kail sederhana dan umpan cacing, kami duduk di tepi pasir timbul menunggu ikan menggigit umpan. Kadang, jika sedang beruntung, ada yang mendapatkan ikan besar.
Saat sore menjelang, kami tidak langsung pulang. Kami lebih suka duduk di atas pasir timbul, menatap matahari yang mulai tenggelam. Beberapa dari kami sudah mulai berbicara tentang masa depan tentang sekolah, cita-cita, dan impian yang ingin diraih.
Ketika akhirnya harus pulang, kami berenang kembali atau menumpang perahu. Di perjalanan pulang, sering kali kami bernyanyi atau bersenda gurau, menikmati kebahagiaan kecil yang hanya bisa dirasakan saat musim kemarau di desa.
Sekarang, setiap kali kemarau datang, saya selalu teringat masa-masa itu masa di mana sungai menjadi tempat paling indah di dunia, pasir timbul menjadi surga kecil kami, dan tawa teman-teman masih terngiang di telinga. Musim kemarau di Desa Kedotan bukan hanya sekadar waktu bermain, tetapi juga bagian dari kenangan masa kecil dan remaja yang tak akan pernah pudar.

Komentar
Posting Komentar