Kampung Halamanku
Di tepian Sungai Batanghari yang membentang luas, berdirilah sebuah desa kecil bernama Desa Kedotan, yang terletak di Kecamatan Sekernan, Kabupaten Muaro Jambi. Inilah kampung kelahiranku, tempat aku tumbuh dan mengenal kehidupan. Meski jauh dari hiruk-pikuk kota, desa ini menyimpan pesona tersendiri yang tak akan pernah tergantikan di hatiku.
Pagi di Desa Kedotan selalu terasa sejuk. Kabut tipis menyelimuti hamparan sawah yang hijau, sementara suara ayam berkokok bersahutan, menandakan hari baru telah tiba. Sungai Batanghari yang mengalir tenang menjadi saksi bisu kehidupan masyarakat di sini. Dulu, saat masih kecil, saya sering bermain di tepi sungai bersama teman-teman. Kami memancing ikan jika kondisi air sungai dalam keadaan naik (pasang) maupun surut, kalau lagi musinm air pasang ikan kecil-kecil banyak yang mudik ( bahasa kedotan ikan mudik ) alis ke arah hulu sungai, kami juga sering bermain lumpur di tepian sungai kalau ait lagi surut, main luncuran yang menyenangkan, tawa kami selalu menggema, bercampur dengan suara gemericik air yang menenangkan sambil makan buah-buahan yang di ambil dari pohonnya. Biasanya buah yang lagi musim saat itu.
Penduduk desa kami hidup rukun dan menjunjung tinggi nilai sailun salimbai, sebuah filosofi adat yang berarti gotong royong dan kebersamaan. Setiap kali ada hajatan, entah itu pernikahan atau acara adat, seluruh warga saling membantu tanpa pamrih. Perempuan-perempuan desa memasak bersama di dapur besar, sementara para lelaki sibuk mendirikan tenda dan menyiapkan keperluan lainnya. Tak ada yang merasa lebih tinggi atau lebih rendah, karena di desa kami, semua adalah saudara.
Selain bertani, sebagian besar warga Desa Kedotan juga mengolah hasil sawah. Beumo tempat kami menanam padi, padi tumbuh subur di sekitar desa, dan dari situlah kami mendapatkan bahan makanan pokok. Ketika musim beumo kami sekeluarga pergi ke umo untuk garap umo, bersihkan rumput dengan menebasnya kemudian rumput-rumput yang sudah di tebas (digawekan) kering atau basah langsung kami angkut buat tembokan ( barisan jalan) untuk membuat petak-petak umo dan jalan untuk lewat dan usir burung saat padi la berbuah. setelah beberes kami biasa langsung makan dengan suasana angin lembut membuat makan semakin berselera walaupun rasanya memang sederhana, tetapi bagi kami, makanan ini penuh dengan kenangan dan cita rasa kampung halaman. Banyak hal yang paling saya rindukan dari desa tercinta. Namun, seiring berjalannya waktu, perubahan mulai terasa di Desa Kedotan. Generasi muda banyak yang merantau ke kota untuk mencari pekerjaan atau melanjutkan pendidikan. Rumah-rumah kayu yang dulu ramai kini mulai sepi. Saya pun kini berada agak jauh dari kampung halaman, terpisah oleh jarak dan waktu.Meski begitu, bagiku, Desa Kedotan tetaplah rumah. Aku selalu percaya bahwa tanah kelahiran adalah bagian dari diri kita yang tak akan pernah hilang. Setiap kali aku pulang, aku masih bisa merasakan kesejukan udara pagi, melihat hamparan sawah yang menghijau, dan mendengar suara gemericik Sungai Batanghari yang menenangkan walaupun warna sungai batanghari la berunah jadi coklat berbeda dengan waktu masih kecil-kecil masih jernih dan menyejukkan kalau melihatnya.
(Ramdhan, Sabtu 8/3/2025)

Komentar
Posting Komentar