Postingan

Solar dan musim umo

Gambar
     Waktu usia saya lima tahun, ada satu cerita yang selalu diceritakan oleh Mak, cerita yang selalu membuat kami tertawa setiap kali dikenang, meski saat itu mungkin semua orang panik bukan main. Cerita ini terjadi di musim tanam padi, saat umo (sawah) di kampung mulai diisi kembali dengan benih harapan.      Musim tanam adalah masa sibuk bagi keluarga kami. Semua orang turun ke sawah, bekerja dari pagi hingga sore, berjuang bersama alam untuk menyiapkan ladang yang subur. Cuaca waktu itu panas terik. Matahari seperti enggan bersembunyi, memancarkan panasnya tanpa ampun. Anak-anak kecil seperti saya biasanya ikut ke sawah, bermain atau berlompatan di sela-sela lumpur, menikmati keriangan masa kecil.      Saya masih ingat, di tengah panas yang menyengat, haus mulai menyerang. Saya berlarian kecil, mencari-cari minuman. Di atas pondok, saya melihat sebuah botol yang diletakkan di atas meja kecil. Warnanya seperti teh yang biasa Mak bawa dari ...

Arti sebuah Nama

Gambar
 Arti sebuah N.A.M.A Kisah Pemberian Namaku… Pada pagi yang cerah, di hari Selasa, 21 April 1992 atau bertepatan dengan 18 Syawal 1412 Hijriah, aku terlahir ke dunia ini. Suara adzan yang dikumandangkan oleh ayahku, Ali, menggema di telingaku sebagai lantunan pertama yang kudengar. Sebuah tanda bahwa aku telah resmi menyapa dunia, dengan harapan menjadi anak yang shalih, pembawa kebahagiaan, dan penerus kebaikan keluarga. Sejak awal, kedua orang tuaku, Mak dan Ayah, telah menyiapkan doa-doa terbaik untukku. Nama yang akan mereka sematkan bukan sekadar panggilan, melainkan harapan dan doa yang akan menyertai sepanjang hidupku. Mak, Lina Wati, memimpikan agar aku tumbuh sebagai anak yang penuh kelembutan, bijaksana, dan berakhlak mulia. Sementara ayah berharap aku menjadi sosok yang kuat, berani, dan memiliki semangat kepemimpinan. Proses Pemberian Nama Dalam budaya keluarga kami, pemberian nama bukan perkara sederhana. Ada musyawarah, ada doa, dan tentu saja ada tradisi yang harus d...

Cinta Karena Allah

Gambar
Foto mak dan ayah  Kisah Cinta Mak dan Ayah Di desa yang tenang dan penuh dengan adat istiadat, kisah cinta antara Mak dan Ayah bermula. Sebuah kisah yang sederhana, namun sarat makna dan ketulusan. Cinta mereka tumbuh bukan karena pertemuan yang disengaja, melainkan melalui silaturahim yang membawa berkah. Mak saat itu masih duduk di bangku Madrasah Tsanawiyah (MTS), seorang gadis muda yang santun dan penuh adab. Sementara Ayah masih melanjutkan pendidikan di jenjang SMA, seorang pemuda yang teguh pendirian dan penuh rasa tanggung jawab. Mereka berdua hidup dalam lingkungan yang menjunjung tinggi adat dan norma, di mana pergaulan antara pria dan wanita sangat dijaga. Namun, ada satu hal yang unik dalam kisah mereka. Kata Nyai Ayah seringkali datang ke rumah nyai untuk bersilaturahim. Awalnya, kunjungan itu tampak biasa, hanya sebagai bentuk menjaga hubungan baik antar keluarga. Namun, seiring berjalannya waktu, kunjungan itu menjadi semakin sering. Mungkin tanpa disadari, benih ci...

Tangisan Suci

Gambar
Pada suatu hari yang penuh harap dan doa, di sebuah rumah sederhana yang hangat dengan kasih sayang, seorang ibu (Mak) tengah berjuang menghadapi rasa sakit yang luar biasa. Selama dua hari penuh, Mak merasakan perih dan nyeri yang tak terbayangkan. Setiap detik yang berlalu seolah berjalan lambat, diiringi rasa cemas namun juga harapan besar untuk segera memeluk buah hatinya. Dalam rasa sakit yang melanda, doa-doa tak henti dipanjatkan. Air mata yang mengalir bukan hanya karena rasa sakit, tapi juga karena cinta dan harapan yang besar untuk kehidupan baru yang sebentar lagi akan hadir. Di sisi lain, Ayah selalu setia mendampingi, meski hatinya juga dipenuhi rasa cemas. Wajahnya mencerminkan kegelisahan, namun di balik itu ada keberanian dan kekuatan yang ia tunjukkan untuk memberikan semangat kepada Mak. Setiap rintihan yang keluar dari bibir Mak, setiap helaan napas berat, Ayah mendengarnya dengan hati yang bergetar. Ia tahu, perjuangan itu bukanlah hal yang mudah. Namun, cinta kepad...

Rumahku Surgaku

Gambar
Di Desa Kedotan, Dusun Mudo RT 06, berdiri rumah panggung sederhana tempat kenangan masa kecilku tersimpan. Rumah itu terbuat dari kayu dengan tiang-tiang kokoh yang menopangnya. Di halaman rumah, bunga-bunga bermekaran, ditanam dengan penuh kasih sayang oleh Mak. Mawar merah, melati putih, dan kenanga yang harum saat malam tiba seolah menjadi saksi bisu kehidupan kami yang sederhana namun penuh kebahagiaan. Ayah adalah sosok yang tegas namun penuh kelembutan. Ia selalu mengajarkan kami tentang arti kerja keras. Setiap pagi, sebelum matahari sepenuhnya terbit, ia sudah berangkat ke umo dengan membawa peralatan untuk membersihkan umo. Sementara itu, Mak sibuk di dapur, memasak nasi dan lauk sederhana di dapur kayu. Aroma nasi yang baru matang bercampur dengan bau kayu bakar menciptakan kehangatan tersendiri di rumah kecil kami. Kami, anak-anaknya, tumbuh dengan didikan sederhana tetapi penuh makna. “Hidup bukan tentang seberapa banyak yang kita punya, tetapi seberapa banyak yang bisa k...

Kampung Halamanku

Gambar
Di tepian Sungai Batanghari yang membentang luas, berdirilah sebuah desa kecil bernama Desa Kedotan, yang terletak di Kecamatan Sekernan, Kabupaten Muaro Jambi. Inilah kampung kelahiranku, tempat aku tumbuh dan mengenal kehidupan. Meski jauh dari hiruk-pikuk kota, desa ini menyimpan pesona tersendiri yang tak akan pernah tergantikan di hatiku. Pagi di Desa Kedotan selalu terasa sejuk. Kabut tipis menyelimuti hamparan sawah yang hijau, sementara suara ayam berkokok bersahutan, menandakan hari baru telah tiba. Sungai Batanghari yang mengalir tenang menjadi saksi bisu kehidupan masyarakat di sini. Dulu, saat masih kecil, saya sering bermain di tepi sungai bersama teman-teman. Kami memancing ikan jika kondisi air sungai dalam keadaan naik (pasang) maupun surut, kalau lagi musinm air pasang ikan kecil-kecil banyak yang mudik ( bahasa kedotan ikan mudik ) alis ke arah hulu sungai, kami juga sering bermain lumpur di tepian sungai kalau ait lagi surut, main luncuran yang menyenangkan, tawa kam...

Siapa AbuHa?

Gambar
  Al Indra Saputra (AbuHa) dilahirkan di bumi Allah, Sailun Salimbai. Takdir indah mempertemukannya dengan bidadari tercinta, Miftahul Laily, dari bumi Sepucuk Adat Serumpun Pseko. Dalam kasih sayang yang mendalam, Ilahi menitipkan anugerah terindah”dua jagoan hebat, Hannan dan Hamzah”penyejuk pandangan dan pembawa kedamaian hati.  Sehari-hari, AbuHa menjalani kehidupan sebagai insan pembelajar di bumi Serentak Bak Regam, terus menimba ilmu dan berbagi inspirasi. Kisah perjalanan dan pemikirannya yang menarik, menjadi jejak pemikiran yang bermanfaat bagi umat. Nantikan kisah selamjutnya sejuta impian… My Family